Enam Dosen IAI TABAH Lamongan Gaungkan Kearifan Lokal di Panggung Internasional AnCoMS ke-7
Berita IAI TABAH--Kamis (23/10/25), Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan turut ambil bagian dalam Annual Conference for Muslim Scholars (ANCOMS) ke-7, sebuah forum ilmiah bergengsi yang mempertemukan para Akademisi Muslim dari berbagai perguruan tinggi baik dari Indonesia maupun luar negeri, ada dari Pakistan dan Mesir.
Dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah IV Jawa Timur, ANCOMS tahun ini mengusung tema besar “From local wisdom to global harmony: nurturing love and tolerance for islamic sholarship”. Mengawali rangkaian acara, sesi pembukaan 7th AnCoMS diisi dengan seminar yang menghadirkan tiga pembicara kunci, yakni: H. Farid Saenong, MA., Ph.D. (Staf Ahli Menteri Agama RI), Dr. Muhammad al-Murakeby (Head of the Centre for Islam and Global Challenges, Indonesian International Islamic University), Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D. (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya).

Dalam pemaparannya, Farid Saenong menekankan pentingnya merawat nilai kearifan lokal sebagai modal sosial bangsa yang sejalan dengan spirit Islam rahmatan lil ‘alamin. “Dalam konteks global hari ini, kearifan lokal bukan hambatan, tetapi pintu menuju harmoni global jika dielaborasi dalam riset dan keilmuan. Tradisi dan kearifan lokal nusantara yang perlu diangkat agar Indonesia dikenal dunia melalui kekayaan kearifan lokalnya” ujarnya. Dilanjutkan dengan pemateri ke dua, Dr. Muhammad al-Murakeby menyoroti urgensi menjawab tantangan global melalui kerangka keilmuan Islam yang dialogis. Ia menegaskan bahwa isu-isu global seperti krisis kemanusiaan, polarisasi, dan intoleransi membutuhkan respon ilmiah berbasis nilai cinta dan kelenturan tradisi Islam dalam sejarah peradaban.
Sementara itu, Prof. Abdul Kadir Riyadi menegaskan bahwa penerjemahan nilai cinta dan toleransi ke dalam bahasa ilmiah Islam tidak cukup pada tataran wacana, melainkan perlu komitmen praksis di perguruan tinggi, kurikulum, dan ekosistem riset. “Keilmuan Islam harus melahirkan harmoni, bukan sekadar argumentasi,” tandasnya.
Koordinator Kopertais Wilayah IV, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perguruan tinggi Islam perlu menjadi jembatan antara nilai-nilai lokal dan dinamika global. Tiga narasumber utama yang hadir dari berbagai disiplin ilmu merupakan akedemisi yang sangat kompeten di dua isu yang ada pada tema ini, local wisdom dan global harmony. Isu yang diangkat adalah tentang bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada dunia global. Para pemateri juga telah memiliki pengalaman yang luas, baik di tingkat lokal maupun global, sehingga pandangan yang disampaikan sangat kaya dan relevan dengan tantangan zaman.

Pada kesempatan tersebut, IAI TABAH mengirimkan enam dosen dari berbagai bidang keilmuan untuk menjadi presenter dan berbagi hasil penelitian mereka. Keenam dosen tersebut antara lain: Dr. Alimul Muniroh, M.Ed. - Psikologi Harmoni: Menumbuhkan Cinta dalam Proses Reintegrasi Sosial Anak Deportan di Kecamatan Paciran, Siti Fahimah, M.A. - Dari Tradisi Tenun Lokal Menuju Harmoni Global: Konstruksi Nilai Pengendalian Diri dan Toleransi Perempuan dalam Kajian Sosial Budaya Islami, Intihaul Khiyaroh, M.A. - Komunikasi Ritual dalam Surtanah: Akulturasi Budaya dan Islam untuk Membangun Harmoni Global, Mubarok Ahmadi, M.I.Kom. - Dakwah Kultural Berbasis Kearifan Lokal: Tradisi Jaran Jenggo sebagai Media Komunikasi Islam di Era Global, Muhammad Nashihin, S.Pd.I., M.Pd. - Pasar Segoro Campurejo: Coastal Epistemology, The Shellfish Revolution, and Tolerance Education to Maintain Global Harmony, dan Ahmad Badrut Tamam, M.HI. - Reorientasi Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI): Integrasi Local Wisdom dalam Perkembangan Hukum Ekonomi Islam
Partisipasi aktif para dosen dari IAI TABAH Lamongan di ajang AnCoMS ke-7 menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam menguatkan tradisi riset dan memperluas jejaring akademik. Melalui forum bergengsi ini, para dosen tidak hanya menyajikan hasil penelitian inovatif, tetapi juga berperan penting dalam membangun narasi akademik Islam yang kokoh. Penelitian yang mereka bawakan fokus pada kearifan lokal, namun tetap relevan dan memiliki daya saing untuk dibahas di kancah global.
Rektor IAI TABAH, Dr. Alimul Muniroh, M.Ed., menyampaikan kebanggaannya atas kontribusi signifikan ini. “Kami bangga dosen-dosen IAI TABAH terus berkiprah di forum akademik nasional. Partisipasi ini mempertegas posisi IAI TABAH sebagai institusi yang aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu Islam yang kontekstual dan berdaya saing global,” ujar Dr. Alimul. Menurutnya, keterlibatan ini menegaskan bahwa IAI TABAH adalah institusi yang peduli terhadap pengembangan ilmu pengetahuan Islam berbasis konteks keindonesiaan.
Diharapkan, ANCOMS ke-7 ini akan menjadi platform sinergi yang strategis bagi akademisi seluruh Indonesia untuk memperkuat kualitas penelitian dan memperluas kolaborasi lintas kampus. Keikutsertaan IAI TABAH dalam forum ini sekaligus menegaskan peran strategis institusi dalam menyuarakan nilai-nilai keislaman yang inklusif, toleran, dan berakar kuat pada kekayaan budaya lokal. Dengan kontribusi dosennya, IAI TABAH menunjukkan kesiapan untuk terus memimpin dalam pengembangan ilmu Islam yang relevan bagi masa depan peradaban global.
Riski and 6110 orang menyukai Postingan ini.