HIMAPRODI PAI UNITABAH Gelar Seminar Nasional 2026, Kupas Seni Mengelola Ego untuk Kuliah, Organisasi, dan Karier
Berita UNITABAH--Lamongan, 4 Oktober 2026, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HIMAPRODI PAI) Universitas Tarbiyatut Tholabah (UNITABAH) Lamongan menggelar Seminar Nasional 2026 dengan mengangkat tema “Mastering The Balance Act: Seni Manajemen Ego untuk Kuliah, Organisasi, dan Karir”. Kegiatan yang berlangsung di Aula KH. Mushtofa Universitas Tarbiyatut Tholabah tersebut diikuti oleh 112 peserta.
Seminar ini menjadi ruang reflektif bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya kemampuan mengelola ego, menetapkan prioritas, serta menjaga keseimbangan antara tuntutan perkuliahan, aktivitas organisasi, kehidupan personal, dan persiapan memasuki dunia karier.
Hadir sebagai pemateri, H. Achmad Ilham Zubairi, S.Sos., M.I.Kom., Ketua Karang Taruna Kabupaten Lamongan. Sementara itu, jalannya seminar dipandu oleh Khoridatul Azizah, M.Pd., Dosen Universitas Tarbiyatut Tholabah, yang mengemas diskusi secara komunikatif dan interaktif.
Seminar dibuka dengan pertanyaan yang diajukan oleh moderator, "Berapa banyak konflik dalam kehidupan kita yang sebenarnya bukan disebabkan oleh masalah yang besar, tetapi karena ego yang tidak dikelola?" dan secara langsung, narasumber mengajak mahasiswa melihat ego bukan semata-mata sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan sebagai bagian dari diri yang perlu dikelola secara bijak. Kemampuan mengendalikan keinginan pribadi, membaca situasi, menghargai orang lain, dan menentukan prioritas menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan mahasiswa.
Salah satu pengalaman yang dibagikan dalam seminar adalah perjalanan pemateri ketika memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta yang sempat mendapat penolakan dari orang tua. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa memperjuangkan keinginan pribadi perlu disertai usaha untuk membuktikan kesungguhan, sekaligus tetap menempatkan keridaan orang tua sebagai bagian penting dari perjalanan menuju kesuksesan.
Pembahasan juga menyentuh persoalan manajemen waktu. Mahasiswa didorong untuk tidak memaknai produktivitas sebagai mengisi seluruh waktu dengan aktivitas akademik dan organisasi. Di tengah kesibukan tersebut, diperlukan ruang untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, dan memberikan waktu bagi diri sendiri agar keseimbangan hidup tetap terjaga.
Tidak kalah penting, seminar menempatkan kesehatan mental sebagai salah satu fondasi utama dalam membangun karier. Kesuksesan dan pencapaian material akan kehilangan makna apabila tidak diiringi kondisi mental yang sehat. Karena itu, mahasiswa perlu mengenali batas kemampuan diri, mengelola tekanan, serta menghindari stres yang berlangsung secara berkepanjangan.
Ketua Program Studi PAI UNITABAH, Nafilatur Rohmah, M.Pd., dalam sambutannya menekankan agar seminar tidak berhenti pada kehadiran peserta secara fisik, tetapi juga menghadirkan kesiapan pikiran untuk menerima dan mengolah pengetahuan. “Esensi dari kegiatan seminar ini saya harap dapat diserap secara utuh, baik kehadiran fisik maupun kesiapan pikiran peserta. Ilmu yang diperoleh jangan sampai berhenti sebagai teori perkuliahan saja, tetapi harus mampu memberikan dampak dan diterapkan dalam aktivitas di luar kampus,” ungkapnya.

Melalui seminar tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai manajemen ego, pengelolaan waktu, penentuan prioritas, keseimbangan aktivitas, serta pentingnya menjaga kesehatan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan mahasiswa dan persiapan karier.
Sementara itu, Ketua Pelaksana berharap kegiatan Seminar Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial organisasi. Menurutnya, kegiatan semacam ini harus mampu memberikan bekal pengetahuan, motivasi, dan pengalaman yang dapat diterapkan mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan sosial.
Ia juga berharap kegiatan positif yang diselenggarakan HIMAPRODI PAI dapat terus dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya dengan menghadirkan konsep yang semakin inovatif, kreatif, dan partisipatif, sehingga keberadaan organisasi mahasiswa benar-benar memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas mahasiswa.

Seminar Nasional 2026 kemudian ditutup oleh moderator dengan kalimat, "Kita hidup bersama orang lain, perbedaan pendapat hampir pasti akan selalu ada. Kita dapat belajar untuk tidak selalu menjadi tawanan ego. Kita dapat belajar mendengarkan tanpa merasa kalah, mengakui kesalahan tanpa merasa rendah, mengalah tanpa kehilangan martabat, dan mempertahankan prinsip tanpa harus merendahkan orang lain." Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa UNITABAH untuk tidak hanya mengejar pencapaian akademik dan karier, tetapi juga belajar mengenali diri, mengelola ego, menjaga keseimbangan hidup, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.
Riski and 8059 orang menyukai Postingan ini.