UNITABAH
thumb
  • 24 Nov, 2025 22:18 Malam
  • Berita

Prodi IAT IAI TABAH Lamongan Gelar Seminar Kupas Tuntas Jejak Ilmu Al-Qur'an dari Hikayat Hingga Ayat

Berita IAI TABAH--Kranji, 24 November 2025 – Institut Agama Islam Tarbiyah Tholabah (IAI TABAH) sukses menyelenggarakan Seminar Qur'ani dengan mengangkat tema yang provokatif dan mendalam: "Dari Hikayat Hingga Ayat: Menelusuri Jejak-jejak Kesadaran Dalam Ketuhanan". Acara yang berlangsung khidmat di Aula El-Musthofa pada Senin, 24 November 2025, ini menarik perhatian 24 peserta terpilih serta seluruh jajaran mahasiswa/i Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) dari semester satu hingga tujuh, serta dihadiri langsung oleh Kepala Program Studi IAT, Ibu Tri Tami Gunarti, M.Hum.

Acara dimulai tepat pukul 09.00 WIB, diawali dengan pembukaan oleh Noryka Shofiana selaku MC. Suasana khidmat tercipta melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Fatmah Nur Jannah, dilanjutkan dengan semangat kebersamaan yang terwakili dalam mars yang dipimpin oleh Eka Nurul Faizah. Rangkaian sambutan kemudian disampaikan, dimulai dari Ketua Himaprodi IAT, Siti Mufidatul Amaliyah, yang dilanjutkan oleh sambutan dari Ibu Tri Tami Gunarti, M. Hum. selaku Kepala Program Studi. Seluruh rangkaian pembukaan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Selamet Nur Hidayat.


Setelah sesi pembukaan selesai, acara berlanjut ke inti seminar yang dipandu oleh Selma Yuliana Sholaliha sebagai moderator. Hadir sebagai pemateri tunggal, Bapak Muhammad Nuchid, S.Ag., yang memaparkan kajian komparatif tentang dua jalur penafsiran besar, yakni metodologi yang digunakan oleh Ibnu Taimiyah dan Al-Ghazali. Beliau menjelaskan bahwa kedua tokoh ini memiliki perbedaan mendasar yang menghasilkan konsekuensi makna yang berbeda, terutama dalam garis perbedaan antara makna dzahir (tekstual) dan makna batin (ta’wil). Namun, terlepas dari perbedaan itu, persamaan keduanya terletak pada penggunaan pendekatan metodologi penafsiran Bil-Ma’tsur sebagai pondasi.

Dalam penjelasannya, Bapak Nuchid merinci bahwa Ibnu Taimiyah menempatkan Tafsir Bil-Ma’tsur sebagai fondasi utama, bersandar ketat pada Al-Qur’an, Sunnah, dan riwayat Sahabat. Pendekatannya sangat verifikatif, menolak takwil, dan konsisten mempertahankan makna zahir, khususnya pada ayat-ayat sifat, meski tetap menyerahkan hakikat "bagaimana" sifat Allah (tafwidh al-kaifiyyah) hanya kepada Allah semata. Berbanding terbalik, Al-Ghazali, meski memulai dari makna zahir, memberikan ruang signifikan bagi makna batin selama penafsiran tersebut tidak keluar dari prinsip-prinsip syariat.


Secara keseluruhan, Bapak Nuchid menyimpulkan bahwa kontribusi keduanya sangat besar bagi khazanah tafsir; Ibnu Taimiyah meneguhkan keotentikan riwayat dan disiplin ilmiah, sementara Al-Ghazali memperkaya dimensi pemaknaan melalui pendekatan yang lebih luas dan mendalam. Kedua pendekatan ini dinilai tetap relevan dalam konteks kontemporer sebagai dua sisi yang saling melengkapi dalam memahami pesan Al-Qur’an secara utuh.

Dalam acara ini, para peserta seminar menunjukkan antusiasme yang tinggi selama jalannya acara, berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab, mencerminkan ketertarikan mendalam terhadap perbandingan metodologi tafsir ini. Semoga kegiatan seminar dan kajian mendalam mengenai Al-Qur'an ini dapat menjadi agenda rutin yang berkelanjutan, memupuk kesadaran spiritual dan tradisi keilmuan Al-Qur'an di kalangan akademisi IAI TABAH dan masyarakat luas.


Tags :

Author

Humas IAI TABAH

#1 Empowering The Society: Excellent and Prestigious.

Partners